MEMPERSIAPKAN DIRI UNTUK MENIKAH

cropped-13412869_570220139823670_8064308590753937062_n1.jpg

 

 

Dalam buku “Baarakallaahu laka” Karya Salim A. Fillah disebutkan, secara umum ada 5 hal yang harus dipersiapkan untuk menghadapi pernikahan :

  • Persiapan Ruhiyah (spiritual)

Ini meliputi kesiapan mental, kesiapan untuk bertanggung jawab, berbagi, dan berlapang dada. Juga kesiapan untuk bisa sabar dan syukur dalam menghadapi semua masalah.

  • Persiapan ‘Ilmiyah (Ilmu/Intelektual)

Ini juga sangat penting, ketika pernikahan berlangsung ada beberapa “Fiqh” yang harus dipelajari. Seperti rukun & syarat sah ijab qibul, dll. Juga Ilmu komunikasi dengan pasangan, ilmu ekonomi untuk mencari nafkah, dsb.

  • Persiapan Jasadiyah (Fisik)

Gak lucu kan kalo malam pertama ternyata pengantin pria banyak panunya, he he. Makanya persiapan fisik ini harus diperhatikan sebelum melangsungkan pernikahan. Apalagi dari penyakit-penyakit yang cukup berbahaya bagi kesehatan reproduksi.

  • Persiapan Maadiyah (Materi)
Setidaknya untuk mas kawin, hehe. Tapi perlu juga persiapkan tabungan untuk modal agar cepat mandiri.
  • Persiapan Ijtima’iyyah (Sosial)
Maksudnya, siap untuk bertetangga, siap bagaimana hidup rukun bermasyarakat, dll. Tak kalah pentingnya juga harus ada visi dan misi dakwah di lingkungan masyarakat.

Naaah, itu semua adalah persiapan. Tapi kadar persiapan diatas tidak terbatas hanya untuk mempersiapkan diri menghadapi pernikahan, selamanya harus diupayakan. Karena proses persiapan tersebut hakikatnya juga sebagai proses perbaikan diri yang harus dilakukan selamanya. Maksudnya, tidak berarti kalau kita merasa belum siap dalam salah satu poin diatas atau lebih menjadikan kita belum pantas untuk menikah. Karena pencapaiannya menjadi sangat relatif.
Dan parameter yang Rosul tetapkan sebenarnya sederhana sekali, Beliau bersabda yang artinya :”Wahai sekalian pemuda, barangsiapa diantara kalian telah mampu (baa-ah), maka menikahlah! Karena pernikahan itu dapat lebih menundukkan pandangan dan menjaga kehormatan ‘farj’. Dan barangsiapa yang belum mampu, hendaklah ia berpuasa. Karena puasa adalah benteng yang kuat baginya.” (H.R. Bukhori dan Muslim)
Yaa. Rosul berikan parameter yaitu “baa-ah“, yang ditafsirkan oleh jumhur ‘Ulama dengan maknakemampuan untuk berjima’/bersetubuh. Walaupun sebagian lain menafsirkannya dengan kemampuan memberi nafkah dan memberikan tempat tinggal, tapi yang disepakati adalah tafsiran yang pertama.
Jadi siapapun yang telah mampu untuk berjima’, maka halal dan dianjurkan baginya untuk menikah. Tentunya dengan komitmen, juga persiapan-persiapan tadi, dan keyakinan bahwa Allah akan selalu menjadi penolongnya.

*satu jaminan dari Allah, “ada tiga golongan yang semuanya wajib bagi Alloh untuk menolongnya. Pertama, seorang yang berjihad di jalan Allah. Kedua, seorang yang menikah dengan niat menjaga diri dari kemaksiatan. Ketiga, seorang Hamba sahaya mukatab yang ingin melunasi dirinya agar bisa merdeka” Hadits Hasan riwayat Imam Tirmidzi, An-Nasa’i, dan Ibnu Majah